AL HUDA

Jetis Kutosari Kebumen

Selamat Datang di Website Pondok Pesantren Al Huda Jetis Kutosari Kebumen

Profil Pon Pes

Pondok Pesantren dan Santri


SantriPesantren, pondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sekolah Islam berasrama yang terdapat di Indonesia. Pendidikan di dalam pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Qur'an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa-bahasa Arab. 
Para pelajar pesantren (disebut sebagai santri) belajar di sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren. Institusi sejenis juga terdapat di negara-negara lainnya; misalnya di Malaysia dan Thailand Selatan yang disebut sekolah pondok, serta di India dan Pakistan yang disebut madrasa Islamia.

Sejarah Umum

Umumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang kyai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kyai. Pada zaman dahulu kyai tidak merencanakan bagaimana membangun pondoknya itu, namun yang terpikir hanyalah bagaimana mengajarkan ilmu agama supaya dapat dipahami dan dimengerti oleh santri. Kyai saat itu belum memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang didiami oleh para santri, yang umumnya sangat kecil dan sederhana. Mereka menempati sebuah gedung atau rumah kecil yang mereka dirikan sendiri di sekitar rumah kyai. Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula gubug yang didirikan. Para santri selanjutnya memopulerkan keberadaan pondok pesantren tersebut, sehingga menjadi terkenal kemana-mana, contohnya seperti pada pondok-pondok yang timbul pada zaman Walisongo.

Pondok Pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun 1596. Kegiatan agama inilah yang kemudain dikenal dengan nama Pondok Pesantren. Bahkan dalam catatan Howard M. Federspiel- salah seorang pengkaji ke-Islaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh (pesantren disebut dengan nama Dayah di Aceh) dan Palembang (Sumatera), di Jawa Timur dan di Gowa (Sulawesi) telah menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar.

Definisi Pesantren

Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata "santri" berarti murid dalam Bahasa Jawa.Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq ( فندوق ) yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama dayah. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok.Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan.

Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan. Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.

Peranan Pondok Pesantren

Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan penjejelan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial). Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (society-based curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.

Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.

Banyak pesantren di Indonesia hanya membebankan para santrinya dengan biaya yang rendah, meskipun beberapa pesantren modern membebani dengan biaya yang lebih tinggi. Meski begitu, jika dibandingkan dengan beberapa institusi pendidikan lainnya yang sejenis, pesantren modern jauh lebih murah. Organisasi massa (ormas) Islam yang paling banyak memiliki pesantren adalah Nahdlatul Ulama (NU). Ormas Islam lainnya yang juga memiliki banyak pesantren adalah Al-Washliyah dan Hidayatullah.

Jenis Pesantren

Seiring perkembangan zaman, serta tuntutan masyarakat atas kebutuhan pendidikan Umum, kini banyak pesantren yang menyediakan menu pendidikan umum dalam pesantren. kemudian muncul istilah pesantren Salaf dan pesantren Modern, pesantren Salaf adalah pesantren yang murni mengajarkan Pendidikan Agama sedangkan Pesantren Modern menggunakan system pengajaran pendidikan umum atau Kurikulum.

Pesantren Salafi

Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama Islam saja umumnya disebut pesantren salafi.  Pola tradisional yang diterapkan dalam pesantren salafi adalah para santri bekerja untuk kyai mereka - bisa dengan mencangkul sawah, mengurusi empang (kolam ikan), dan lain sebagainya - dan sebagai balasannya mereka diajari ilmu agama oleh kyai mereka tersebut.  Sebagian besar pesantren salafi menyediakan asrama sebagai tempat tinggal para santrinya dengan membebankan biaya yang rendah atau bahkan tanpa biaya sama sekali.  Para santri, pada umumnya menghabiskan hingga 20 jam waktu sehari dengan penuh dengan kegiatan, dimulai dari salat shubuh di waktu pagi hingga mereka tidur kembali di waktu malam.  Pada waktu siang, para santri pergi ke sekolah umum untuk belajar ilmu formal, pada waktu sore mereka menghadiri pengajian dengan kyai atau ustadz mereka untuk memperdalam pelajaran agama dan al-Qur'an.

Pesantren Modern

Ada pula pesantren yang mengajarkan pendidikan umum, dimana persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam daripada ilmu umum (matematika, fisika, dan lainnya). Ini sering disebut dengan istilah pondok pesantren modern, dan umumnya tetap menekankan nilai-nilai dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri. Pada pesantren dengan materi ajar campuran antara pendidikan ilmu formal dan ilmu agama Islam, para santri belajar seperti di sekolah umum atau madrasah. Pesantren campuran untuk tingkat SMP kadang-kadang juga dikenal dengan nama Madrasah Tsanawiyah, sedangkan untuk tingkat SMA dengan nama Madrasah Aliyah. Namun, perbedaan pesantren dan madrasah terletak pada sistemnya. Pesantren memasukkan santrinya ke dalam asrama, sementara dalam madrasah tidak.

Modernisasi Pesantren

Sebab-sebab terjadinya moderenisasi Pesantren daiantaranya: Pertama, munculnya wancana penolakan taqlid dengan “kembali kepada Al-Qur’an dan sunah” sebagai isu sentral yang mulai di tadaruskan sejak tahun 1900. Maka sejak saat tiu perdebatan antara kaum tua dengan kaum muda, atau kalangan reformis dengan kalangan ortodoks/konservatif, mulai mengemukan sebagai wancana public. Kedua: kian mengemukannya wacana perlawanan nasional atas kolonialisme Belanda. Ketiga, terbitnya kesadaran kalangan Muslim untuk memperbaharui organisasi keislaman mereka yang berkonsentrasi dalam aspek sosial ekonomi. Keempat, dorongan kaum Muslim untuk memperbaharui sistem pendidikan Islam. Salah satu dari keempat faktor tersebut dalam pandangan Karel A. Steenbrink, yang sejatinya selalu menjadi sumber inspirasi para pembaharu Islam untuk melakukan perubahan Islam di Indonesia.

 

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren

Sejarah Berdirinya Pon Pes Al Huda

Sebelum mempunyai nama Al-Huda, Pondok Pesantren di Jetis Kutosari Kebumen ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Jetis. Didirikan kurang lebih pada tahun 1880 Masehi oleh K.H. Abdurrahman. Semasa kecil beliau bernama Solihin, berasal dari desa Gebrek Ambal Kebumen. Beliau diberi tugas menggembala kerbau oleh pamannya selama bertahun-tahun. Pada suatu hari salah satu kerbau gembalaannya ada yang hilang, beliau dimarahi oleh pamannya dan dituntut harus mencari sampai ketemu. Akhirnya beliau mencari sampai ke pesisir laut. Karena kerbaunya tidak ketemu, beliau kebingungan, tidak berani pulang dan menangis sambil berjalan terus ke arah timur. Orang tuanya sangat sedih dan menganggap putranya yang bernama Solihin itu telah meninggal dunia dimangsa binatang buas. Selama berhari-hari beliau berjalan kaki ke arah timur dan akhirnya beliau sampai di Pondok Pesantren Wringin Agung Jawa Timur. Beliau mengaji dengan sungguh-sungguh di sana sehingga menguasai banyak ilmu agama.
Suatu hari beliau sowan/matur kepada Kyainya untuk melanjutkan mengajinya di Makkah. Pak Kyainya memperbolehkannya dengan syarat harus ziarah terlebih dahulu ke Pamijahan Jawa Barat dan pamitan dengan Orang tuanya. Akhirnya beliau pulang ke rumah untuk pamitan dengan Orang tua dan ziarah ke Pamijahan Jawa Barat. Pada saat beliau pamitan dengan Orang tuanya beliau mengaku sebagai musafir yang ingin beristirahat dan bermalam. Sambil beristirahat beliau berdialog dengan orang tuanya itu dan menanyakan berapa jumlah anaknya dan di mana saja. orang tuanya menjawab mempunyai beberapa anak, yang pertama bekerja di sana, yang kedua bekerja di sana dan seterusnya serta yang bernama Solihin hilang entah di makan harimau atau ke mana. Beliau menanyakan lagi tentang ciri-ciri anak bernama Solihin yang hilang itu. Orang tuanya menjawab bahwa ciri-cirinya adalah di punggungnya ada toh/tahi lalat nya. Akhirnya pada saat beliau akan melanjutkan perjalanan, beliau mengaku merasa masuk angin dan minta orang tua itu untuk memijat dan mengerikinya. Begitu akan dikeriki orang tuanya melihat bahwa di punggung beliau ada “toh”nya dan orang tuanya yakin bahwa beliau adalah Solihin putranya. orang tuanya menangis terharu dan bahagia sambil meneriakkan “Solihin hidup kembali” berulang-ulang. Setelah itu, mereka melanjutkan dialognya tentang kisah perjalanan hidupnya dan beliau minta ijin untuk meneruskan perjalanan ziarah ke Pamijahan Jawa Barat dan melanjutkan mencari ilmu di Makkah. Orang tuanya pun merestui dan memberikan ijin kepadanya.
Setelah ziarah dari Pamijahan Jawa Barat, beliau sowan lagi kepada Pak Kyainya di Wringin Agung Jawa Timur untuk melaksanakan keinginannya belajar di Makkah. Akhirnya beliau berangkat ke Makkah dan menuntut Ilmu Thariqoh di Jabal Qubbais kepada Syekh Abdur Rauf dan dilanjutkan kepada Syekh Sulaiman Zuhdi. Setelah beberapa tahun akhirnya beliau mempunyai ilmu yang tinggi dan menjadi Mursyid serta diberi nama baru yaitu “K.H. Abdurrahman”. Selanjutnya beliau pulang ke Tanah Air Indonesia.
Di Tanah Air Indonesia beliau mengajarkan Ilmu Thariqah di Desa Kelahirannya yakni Ambal Kebumen. Karena pengajiannya sambil memutar tasbih akhirnya ajaran beliau difitnah dan dilaporkan ke Penjajah Belanda bahwa Mbah Abdurrahman sedang mengajarkan membuat bom untuk memberontak. Akhirnya beliau ditangkap Pasukan Belanda dan dibawa ke Pusat Pemerintahan Belanda di Kebumen. Setelah ditanyakan kepada para Kyai kepercayaan pimpinan penjajah penguasa Kebumen saat itu, ajaran beliau dinyatakan aman dan tidak berpotensi memberontak. Namun pimpinan Penjajah masih khawatir dengan ajaran Mbah Abdurrahman, dan untuk mempermudah dalam mengawasinya pimpinan penjajah meminta agar Mbah Machfudz ditempatkan di sekitar perkotaan. Pimpinan penjajah menanyakan kepada para Kepala Desa bahwa siapa diantara mereka yang desanya mau ditempati seorang Kyai. Kepala Desa Kutosari mengacungkan telunjuk pertama kali bahwa Desanya membutuhkan seorang Kyai.
Akhirnya Mbah Abdurrahman dibuatkan rumah dan Musholla tempat mengaji di dukuh Jetis dekat sungai Lukulo yang saat itu masih berupa perbukitan yang lebat dan angker. Beliau mengajarkan ilmu agama Islam dan Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah di Jetis hingga beberapa tahun dan dikaruniai beberapa anak sebagai berikut :
1. Mbah Husain
2. Mbah Hasbullah
3. Mbah Suhaemi
4. Mbah Kaelani
Mbah Husain mendampingi Bapaknya Mbah Abdurrahman dalam perjuangan dakwahnya di Jetis. Mbah Hasbullah dijadikan Mursyid oleh Mbah Abdurrahman tapi disuruh menyebarkan di Kota Kajoran Mranggen Magelang, Mbah Suhaemi bermukim di Tepakyang Temanggal, sedangkan Mbah Kaelani belajar di Makkah.
Mbah Abdurrahman meninggal dunia pada Hari Jum’at saat melakukan sujud tilawah dalam Shalat Shubuh. Sepeninggal Beliau Kemursyidan diserahkan kepada Mbah Husain anak pertamanya, tetapi beliau hanya bisa mengasuh kurang lebih selama tiga tahun. Karena mbah Husain tidak mempunyai anak laki-laki, akhirnya masyarakat, jama’ah thariqoh, dan para badal menghendaki agar Mbah Hasbullah segera pulang dari Magelang untuk meneruskan Kemursyidan Mbah Abdurrahman di Jetis. Awalnya Mbah Hasbullah keberatan karena sudah mapan dan mempunyai banyak jama’ah di Magelang. Karena di desak oleh masyarakat Kebumen kemudian beliau melakukan istikharah. Dalam istikharahnya Mbah Hasbullah berkata bahwa beliau mimpi dikejar-kejar oleh Mbah Abdurrahman dengan dibawakan upet (pejut berapi) untuk segara pulang ke Jetis.
Akhirnya beliau pulang ke Jetis dan menjadi Mursyid selama beberapa tahun. Mbah Hasbullah dikaruniai 5 anak, yaitu :
1. K.H Machfudz
2. Nyai Syekh ‘umar
3. Nyai Maemunah
4. Nyai Khoiriyah
5. Hasyim
Mbah Hasbullah meninggal saat melaksanakan Tawajuhan. Sepeninggal wafat Kemursyidan diserahkan kepada putra pertamanya yakni K.H. Machfudz. Sejak diasuh beliau Pondok Pesantren Jetis diberi nama Al-Huda. Semasa mudanya beliau pernah mengenyam pendidikan diberbagai pondok, antara lain pondok Termas selama kurang lebih 2 tahun, kemudian dilanjutkan ke pondok Bendo, Kediri, yang saat itu diasuh oleh Syekh Ghozin, yang kemudian beliau dinikahkan dengan salah satu putri beliau yang bernama Nyai Maimunah. Atas pernikahannya beliau dikaruniai 17 putra dan putri, namun yang hidup hanya 6 putra dan 6 putri, yaitu :

  1. Kyai. Abdul Kholiq
  2. Kyai. Juwaini
  3. Nyai. Umi Kulsum
  4. Nyai. Khasanah
  5. Nyai. Masruroh
  6. Kyai. Makhrus
  7. Nyai. Hayati
  8. Kyai. Muahaimin
  9. Nyai. Siti Ma’rifah
  10. Nyai. Siti Muhayaroh
  11. Kyai. Wahib Machfudz
  12. Kyai. Yazid Macfufudz

Semasa sugeng Syekh Machfudz wasiat kepada para pendamping dan badal-badalnya yang isinya : “Sak pungkurku sing nerusaken Kholiq, sak pungkure Kholiq sing nerusaken Wahib”, Adapun yang diwasiati adalah :

  • K.H. Machfudz Iskandar 
  • K.H. Khamid - Kajoran 
  • K.H. Husin - Tamanwinangun
  • Bu Nyai Machfudz 
  • Bu Nyai Romlah

Setelah beliau wafat sesuai wasiat Syekh Machfudz Kemursyidan dipegang oleh putranya yang sulung K.H. Abdul Kholiq. Beliau wafat setelah memimpin Pondok Pesantren hanya selama 11 bulan. Setelah beliau wafat sesuai wasiat Syekh Machfudz juga Kemursyidan diteruskan oleh adiknya yaitu syaikhina wamurabbiruhina K.H. Wahib Machfudz.
Semasa mudanya K.H. Wahib Machfudz menempuh pendidikan umum sampai tingkat tsanawiyah, kemudian beliau mondok di Lirap asuhan K.H. Durmuji Ibrohim, pada tahun 1974-1978. setelah itu beliau melanjutkan di pondok Al-Barokah, Kawunganten Cilacap, setelah merasa cukup kemudian beliau melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada tahun 1980-1983 yang diasuh oleh K.H. A. Djazuli Usman, bersama putranya K.H. Zainuddin Djazuli yang mengasuh Pondok Putra dan K.H. Nurul Huda yang mengasuh Pondok putri. Setelah dianggap cukup kemudian beliau pulang untuk meneruskan perjuangan kepemimpinan pondok pesantren Al-Huda Jetis sampai sekarang.
Beliau menikah dengan salah seorang putri keturunan Raden Kolopaking yang bernama Nyai Hj. Nur Hasanah dan telah dikaruniai 3 putra dan 3 putri, yaitu :
1. H. Muhammad Fatihunnada
2. H. Zidni Rohman
3. Asnal Mala
4. Ziaul Haq
5. Nayli Syifa
6. Fittamami
Beliau juga sudah mempunyai seorang menantu yang menikah dengan putrinya Ning Asnal Mala yaitu H. Ulin Nuha Shodiq Suhaemi putra Bapak K.H. Shodiq Suhaemi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda Sirampog Brebes dan telah dikaruaniai seorang anak bernama Kevin Billah yang menjadi cucu pertamanya K.H. Wahib Machfudz.
Kepengurusan Pondok Pesantren Al-Huda mulai ditata sejak diasuh oleh Mbah Kholiq. Adapun nama-nama Ketua Pondok Pesantren Al-Huda adalah sebagai berikut :

  1. K. M. Mahmudi (Thowil) 
  2. K. Sugeng Ulil Wafie (Almarhum)
  3. Suhud
  4. K. Fakhruddin
  5. Farkhanudin
  6. Chayyun Mubarok
  7. Akhmad Komarudin
  8. Nasihin
  9. Fajar Shodiq
  10. Zaenal Arifin

Sekilas Pandang Pondok Pesantren Al-Huda

Sebagai institusi non formal, Pondok Pesantren Al-Huda merupakan mitra pendidikan formal yang mendidik warga bangsa secara paripurna. Pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan orang tua. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah memiliki keterbatasan dalam menyelenggarakan pendidikan formal dan sekaligus mengisyaratkan kepada lembaga-lembaga masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan non formal. Berdasarkan pada suatu kenyataan bahwa pendidikan merupakan suatu pilar utama kemajuan suatu bangsa (dalam bidang moral dan intelektual). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan penanganan yang serius, terencana dan sistematis.

Dalam sebuah tulisannya, Brunt menyebutkan tiga karakteristik utama seorang cendekiawan, yaitu devote of values ”keterlibatan dalam nilai-nilai luhur”, devote of ideas “keterlibatan dalam gagasan-gagasan kemajuan”, dan devote of knowledge “keterlibatan dalam ilmu pengetahuan “. Pendidikan non formal cenderung mengedepankan unsur ketiga, (devote of knowledge). Oleh karena itu, keberadaan pondok pesantren sebagai institusi non formal sangat signifikan dan urgen sebagai mitra dan sarana pengembangan unsur pertama dan kedua (diatas) bagi pendidikan formal.

Pondok Pesantren Al-Huda, yang merupakan mitra pendidikan formal diharapkan mampu menyingkirkan adagium klasik ilmuan terkemuka Enstein : Agama tanpa ilmu akan pincang, sebaliknya ilmu tanpa agama akan buta. Para santri Al- Huda tidak hanya terdiri dari santri tahkasus (santri yang hanya belajar di pondok), tetapi ada juga yang belajar di institusi formal, yaitu SMP, SMA, SMK, dan Perguruan Tinggi. Juga ada santri sepuh (santri yang mengikuti Thoriqoh An Naqsabandiyyah Kholidiyyah) yang juga disebut ikhwan thoriqoh dan lebih populer dengan istilah mbah suluk. Bahkan santri ketiga ini menempati porsi terbesar.

Pondok Pesantren Al-Huda didirikan sekitar tahun 1880. Pondok ini terletak di Jetis, Desa Kutosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Lokasinya sangat setrategis karena terletak di jantung kota Kebumen, pondok pesantren ini juga berdekatan dengan beberapa tempat pendidikan formal, seperti SMP, SMA, SMK dan Perguruan Tinggi, masjid Agung dan pusat pemerintahan kabupaten Kebumen, dan mulai tahun 2006 Pengasuh Pondok Pesantren sekaligus sebagai ketua Yayasan Kholidiyah, KH Wahib Machfudz mendirikan pendidikan formal yaitu SMP VIP Al-Huda dan pada tahun 2008 mendirikan SMK VIP Al-Huda yang mempuyai 3 jurusan yaitu: Farmasi, Keperawatan, dan Kimia Industri.

Kurikulum Pondok Pesantren Al- Huda lebih menekankan pada pendidikan agama seperti ilmu fiqh, bahasa arab, ilmu alat ( nahwu dan shorof ), tauhid dan akhlak. Pondok Pesantren Al-Huda terdiri dari dua kelompok: (a) Kelompok remaja serta dewasa. (b) Kelompok orang tua. Kelompok remaja dan dewasa dikategorikan menjadi dua macam. Pertama, santri yang khusus belajar ilmu agama di pesantren dan kedua, santri yang belajar ilmu agama di pesantren dan belajar ilmu umum di SMP, MTs, SMA, MA, SMK baik negeri maupun swasta, dan juga belajar di Perguruan Tinggi (STAINU, STAISA, STIE, PGSD) Jumlah keseluruhan santri sekitar 850 santri. Untuk santri putra 450 dan santri putri 400.

Kelompok santri tua menempuh pendidikan ilmu Thorikoh ‘Ulama Salaf As Sholeh, Yaitu Thorikoh An Naqsabandiyyah Al Kholidiyyah. Ilmu tersebut menekankan pada taubat diri dengan mengalahkan nafsu hati, agar dalam beribadat lebih dekat dengan Alloh SWT. Kelompok Santri ini berasal dari daerah Kebumen dan sekitarnya.

Visi dan Misi Pondok Pesantren Al-Huda

VISI:

  • Mewujudkan pesantren yang mampu menghasilkan lulusan yang mampu memahami dan mendalami ilmu agama, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta insan yang berbudi pekerti luhur dan berahlakul karimah.
  • Memantapkan iman dan taqwa serta mengembangkan ilmu pengetahuan agama untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat berdasarkan Al-Qur’an dan Assunnah.

MISI:

  • Beriman dan bertaqwa, berprestasi serta berakhlakul karimah.
  • Mengarahkan dan mengantarkan umat memenuhi fitrahnya sebagi khoirul ummah yang dapat memerankan kepeloporan kemajuan dan perubahan social, sehingga tercipta negera Indonesia yang Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghafur.

TUJUAN:

  • Mencetak generasi muda menjadikan pribadi islami
  • Untuk dijadikan pusat unggulan ( dalam arti khusus ) sehingga tercipta persaingan yang sehat dan mandiri.
  • Mengupayakan peserta didik yang memiliki tingkat keberhasilan ilmiyah yang tinggi.
  • Mampu mengimplementasikan IMTAQ dalam kehidupan sehari-sehari

Home | About us | Contact me

Copyright © 2016. Pondok Pesantren Al Huda.

Jetis, Kutosari, Kebumen, Jawa Tengah Tlp (0287) 384964