AL HUDA

Jetis Kutosari Kebumen

Selamat Datang di Website Pondok Pesantren Al Huda Jetis Kutosari Kebumen

The History Of Terminology "Al Jahil Al Murokkab"

jahil murokkab

Sheykhun Nuhaat Abu Hayyan Muhammad Ibn Yusuf Al Ghornathi, Al Andalusi, dalam tafsirnya "Al bahrul Muhith" merangkai dua bait syair yang sangat indah berpesan kepada seorang pencari ilmu untuk sebaiknya memiliki seorang guru yang dapat membimbingnya memahami ilmu-ilmu yg beraneka ragam cabangnya, dan untuk membantu menguraikan masalah-masalah yang sulit dipahami.
Berikut adalah teks syair yang saya kutip langsung dari tafsir beliau;

"Idza rumtal 'uluma bighoiri syaikhin  #  Dlolalta 'anish shirothil mustaqimi

[Ketika kamu mencari ilmu dengan tanpa seorang guru # Niscaya kamu akan tersesat dari jalan yang lurus]

"Wataltabisul umuru 'alaika hatta  #  Tashiro Adlolla min TUMA ALHAKIMI"

[Dan permasalahan-permasalahan menjadi ruwet bagimu sehingga # Kamu akan lebih sesat daripada TUMA AL HAKIM]
 
Di syair itu ada disebut-sebut sebuah nama yaitu "Tuma Al Hakim" siapa sesungguhnya tuma al hakim itu? Dia adalah seorang laki-laki yang mengaku dirinya pandai segala hal, sehingga setiap ada orang yang datang kepadanya diberinyalah sebuah fatwa. Pernah suatu kali ada seorang datang kepadanya meminta resep obat untuk penyakit yang sedang dideritinya, kemudian dicarikannyalah obat yang menurut dia cocok buat mengobati penyakit orang tersebut. Kebetulan dia pernah membaca sebuah artikel yang berisi tentang obat-obatan. Di dalam artikel tersebut dikatakan bahwa "Al habbatus sauda' dawaun min kulli da'in." [Jinten hitam adalah obat dari segala macam penyakit.] Hanya saja karena di artikel tersebut salah cetak, di mana huruf ba' harusnya bertitik satu, tapi di situ bertitik dua, sehingga berbunyi;" Al Hayyatus sauda' dawaun min kulli dain." dan artinya pun berbeda dengan yang pertama, [Ular hitam adalah obat dari segala macam penyakit].
 
Oleh karena dia dalam mencari ilmunya tanpa bimbingan seorang guru, ilmu yang ia dapatkan hanya dari buku-buku bacaan, akibatnya dia salah memberi resep obat kepada orang yang sakit tersebut. Yang seharusnya jinten hitam yang dia kasihkan, malah ular hitam. Akhirnya orang yang sakit tersebut bukanya sembuh, malah mati karena keracunan ular. Begitulah sekilas cerita tentang seorang tumal hakim yang "sok pinter" karena merasa telah memiliki banyak ilmu dari buku-buku yang pernah ia baca, tanpa berguru kepada ahlinya. Akhirnya sesat dan menyesatkan. 
 
Seorang penyair lain juga mengungkapkan kegeramannya kepada orang seperti tuma alhakim ini dengan melantunkan dua bait syair yang mewakili bahasa himar yang dimiliki tuma al hakim, kebetulan tuma al hakim ini memiliki seekor himar yang biasa ia tunggangi ketika bepergian. Berikut ini adalah dua bait syi'ir ungkapan himar tersebut;  

"Qola himarul hakimi tuma *** Lau anshofa dahru lakuntu arkabu"

[Himarnya tuma al hakim berkata *** Seandainya hidup ini boleh jujur, maka akulah yang lebih pantas di atas]

"Liannani jahilun basiithun *** Wa shohibi jahilun murokkabu"

[Karena sesungguhnya aku bodoh yang polos *** Sementara pemilikku ini bodoh yang kuadrat].

Penulis: Syarif Istifham
Alumni pon pes Al Huda yang sekarang masih melanjutkan studinya di universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
Pin It

Add comment


Security code
Refresh

Home | About us | Contact me

Copyright © 2016. Pondok Pesantren Al Huda.

Jetis, Kutosari, Kebumen, Jawa Tengah Tlp (0287) 384964